PTK Siap Tingkatkan Layanan Support Kegiatan Offshore dan Sarana Pelabuhan

DirutBisnis PT Pertamina Trans Kontinental terus tumbuh. Hal ini dibuktikan dengan perolehan laba pada tahun 2018 yang meningkat 52,53% dari tahun 2017. Bagaimana dengan upaya PTK memaksimalkan kinerjanya tahun ini? Berikut penjelasan Direktur Utama PT Pertamina Trans Kontinental Giri Santoso

Bagaimana pencapaian PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) pada tahun 2018 lalu? Sampai dengan 31 Desember 2018, PTK mampu membukukan EBITDA sebesar Rp 589,32 miliar atau 106,04% dari RKAP Revisi 2018 dan 142,91% dari perolehan tahun 2017, dengan mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar Rp 279,09 miliar, 52,53% dari perolehan periode tahun 2017. Dengan kontribusi utama laba operasi 51,14% berasal dari kegiatan kapal, 27,95% dari kegiatan bisnis diversifikasi usaha dan 20,91% dari kegiatan bisnis keagenan kapal. Pencapaian finansial tersebut diperoleh melalui berbagai upaya bisnis. Pertama, intensifikasi usaha, antara lain dengan penambahan jumlah armada milik dari semula 50 armada di Desember 2017 menjadi 66 armada milik di Desember 2018. Penambahan tersebut berasal dari tiga unit armada Tanker 6300-6500 DWT dan 13 unit armada mooring boat untuk kebutuhan shipping Pertamina. Kedua, pengembangan bisnis baru. PTK merambah bisnis logistic base dengan diperolehnya penunjukan dari Pertamina per 1 Februari 2018 dan sebagai pengelola penuh shorebase Tanjung Batu, mulai 1 Agustus 2018. Ketiga, optimalisasi sinergi dengan Pertamina Group, antara lain dengan anak perusahaan Hulu untuk utilisasi kapal offshore support vessels, dengan Marine Pertamina untuk kegiatan pengerukan, pemanduan dan penundaan, serta penyediaan supply air bersih ke kapal-kapal. Selain finansial, pencapaian PTK Tahun 2018 lainnya, yaitu Zero Number of Accident dan mendapatkan penghargaan “1” Runner Up Best of Financial Management Report 2017” pada Ajang APSA (Annual Pertamina Subsidiary Award). Selain itu, PTK turut berperan aktif dalam program Pertamina Digital Transformation dengan pemanfaatan information technology untuk peningkatan operasional dan layanan. PTK juga mendapatkan dua predikat Gold pada kegiatan CIP (Continuous Improvement Program) tingkat anak perusahaan, yaitu PC-Prove SADIS (Aplikasi yang ditujukan untuk memudahkan monitoring kapal secara real time) serta PC-Prove Kico Dua (Aplikasi yang ditujukan untuk kemudahan proses monitoring & penagihan pada kegiatan keagenan kapal).

Apa Fokus Utama Kinerja PTK Tahun 2019? Tahun ini, kami menargetkan pertumbuhan laba bersih 2019 sebesar Rp 320,9 miliar atau meningkat 15% dari realisasi 2018. Kami juga akan melakukan peningkatan market share layanan support kegiatan offshore dan sarana pelabuhan di Pertamina & Pertamina Group. Caranya, dengan melakukan penambahan armada milik dengan target tambahan 18 unit armada jenis harbour tug, mooring boat, dan utility vessel untuk kebutuhan Shipping Pertamina dan PHE ONWJ. Kami akan berupaya maksimal untuk menangkap peluang kebutuhan kapal layanan support kegiatan offshore APH dan kebutuhan kapal sarana pelabuhan Shipping Pertamina lainnya. Fokus kinerja PTK lainnya adalah pengembangan bisnis marine service secara terintegrasi (integrated marine services). Memberikan layanan marine service terpadu, yaitu layanan satu atap seluruh kegiatan marine service, mulai dari kegiatan pengelolaan pelabuhan, keagenan, pemanduan penundaan, mooring unmooring, pengerukan, supply air ke kapal, dan lain-lain. Termasuk menangkap peluang pengalihan kegiatan keagenan yang semula ditangani Marine Pertamina secara bertahap. Kami juga melakukan pengembangan bisnis logistic base, yaitu pengembangan Shorebase Tanjung Batu, Shorebase Batam dan lahan Tanggamus

Apakah PTK menerapkan sinergi bisnis dengan anak perusahaan Pertamina lainnya? Dalam bentuk apa saja sinergi tersebut? Betul, kami menerapkan sinergi bisnis, baik dengan Pertamina Pusat maupun dengan anak perusahaan Pertamina lainnya. Contohnya dengan PHE, Pertagas, Pertamina Patra Niaga, Pertamina EP, PDSI, Pertamedika, Tugu Pratama Indonesia, PTC, Elnusa, Pertamina Shipping, PHI, Nusantara Regas, dan Pertamina Retail. Dari kerja sama tersebut, pendapatan yang diperoleh sekitar Rp 1,7 triliun, sedangkan biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 228,9 miliar. PTK juga melakukan transaksi pembelian produk Pertamina melalui PT Pertamina Lubricants, PT Pertamina Persero, dan PT Pertamina Retail.

Bagaimana prospek sinergi tersebut ke depannya? Prospek sinergi dengan Pertamina dan Pertamina Group masih sangat besar, khususnya untuk sinergi layanan support kebutuhan offshore di AP Hulu dan layanan marine service di Shipping Pertamina. Forum sinergi terus diintensifkan dikoordinir oleh Direktorat Pemasaran Group untuk merealisasikan arahan Direksi Pertamina untuk Pelaksanaan integrative growth di lingkungan Pertamina & Pertamina Group.

Bagaimana kiat PTK untuk tetap eksis dalam bisnis pelayaran domestik di masa yang akan datang? Untuk mewujudkan visi perusahaan menjadi perusahaan pelayaran dan jasa maritim kelas dunia, PTK berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas kinerja operasi dan layanan sesuai best practice, memberikan prioritas utama untuk aspek keselamatan, kesehatan kerja dan lindungan lingkungan, dengan tata kelola perusahaan yang baik, dan profitabilitas yang terus tumbuh dengan pengembangan market share berfokus pada pemenuhan kebutuhan pelanggan. Ke depannya, PTK akan menitikberatkan kegiatan bisnis pengelolaan pelabuhan secara terpadu dengan memberikan jasa layanan kapal, jasa maritim terkait dan kegiatan bisnis logistic base terintegrasi